"Kapan Gedenya Kita?" *

*Mumpung Bakal Pemilu, Coba Nulis Tentang Politik :p :p*

Waktu pengerjaan skripsi kemarin, ada sebuah literatur marketing politik yang bilang kalau pemilih di Indonesia masih berada di tingkat awareness atau sadar akan kehadiran kandidat politik. Artinya, cukup dengan melihat poster, baliho di jalan raya, iklan di tivi, souvenir-souvenir promosi macam buku yasin, kaos berwajah kandidat politik, atau bahkan cukup dari perkataan orang telah mempengaruhi orang dengan sangat kuat dalam menentukan pilihan di pemilu.

Maka, sebenarnya wajar aja dan juga sekaligus yah, miris,  kalau kandidat-kandidat politik memang jarang yang ada menjelaskan visi misi politik, program-program yang diusung di baliho, poster, iklan politik yang dipasang. Kalau gak ditanya di acara debat tivi, atau di pertemuan-pertemuan dengan masyarakat mungkin tidak pernah dijelaskan. Karena ya itu, gak perlu, cukup pasang gambar wajah dicoblos, nomor urut, dan partai aja di baliho sudah cukup, atau kalau perlu sekalian digabung dengan gambar  batman, spiderman, Obama, dll seperti yang diposting di kaskus, agar mencolok, anti mainstream, sehingga menarik bagi  masyarakat dan dipilih karena balihonya lucu dan unik (?)

Tapi, apa semua pemilih di Indonesia macam begitu? secara teori sebenarnya ada cerita tentang masa mengambang atau floating mass yang mungkin bisa dibilang berbeda dengan tipe umum ‘awareness tersebut. Floating mass merupakan tipe pemilih kritis, rasional, dan yang mengedepankan kualitas kandidat politik bukan afiliasi politik. Tipe pemilih ini menurut Pak Fiz di buku Marketing politiknya cukup ditakuti kandidat, partai politik karena berpotensi terus meningkat dan mengubah peta perilaku memilih di Indonesia.

Nah, kebetulan kemarin di skripsi, yang sebenarnya topiknya personal branding, hehe, namun krn  bahas Walikota Bandung Ridwan Kamil, bersinggungan lah dengan marketing politik dan tipe pemilih masa mengambang itu. Masa mengambang yang saya teliti adalah para pemilih RK dengan tingkat pendidikan yang cukup tinggi yakni dari tingkat SMA sampai S3.

Bagaimana dengan hasilnya? Hasilnya adalah benar adanya bahwa masa mengambang itu lebih kritis, tidak begitu saja percaya poster baliho apalagi perkataan orang begitu saja, dan lebih melihat kapabilitas, keahlian. Tapi sayangnya dapat disimpulkan hanya sedikit lebih kritis di depan tipe umum awareness, bahkan kalau dihubungan dengan tipe AIDA di marketing, bisa dibilang belum sampai tingkat interest. Hal ini karena ternyata, kekritisan yang dimiliki baru sampai melihat kapabilitas  dan keahlian dari luar, pemilih tidak kritis dalam memahami lebih dalam program-program yang diusung, efeknya kepada perkembangan masyarakat, kepribadian kandidat politik, dan lain sebagainya.

Nah, dari cerita diatas, artinya apa, kalau menurut saya, artinya memang pemilih di Indonesia belum dewasa. Masih belum tahu bagaimana harus bersikap di politik, bagaimana menghadapi pemilu, bagaimana melihat kondisi politik yang terjadi, dan sebagainya. Alhasil, ya banyak yang pasrah, seperti pilih aja yang dilihat di jalanan, atau golput aja karena gak tau apa-apa daripada salah pilih.

Pacaran atau having a date dengan skripsi saya kemarin memang banyak hikmah hahaha, karena ya menampar diri saya sendiri sebenarnya wekeke. Jika diingat-ingat saya selalu tergolong geng pasrah dan akhirnya golput di politik, dengan alasan gak tau apa-apa, daripada salah dll.

Saya belajar ternyata sikap saya kemarin, yang pasrah terhadap politik, berkontribusi terhadap kekanak-kanakannya pemilih di Indonesia. Kalau misal dari dulu saya lebih sadar, setidaknya saya dapat bergerak satu langkah lebih dewasa, gak menjadi bodoh di pemilu, mencari informasi sedalam-dalamnya, dan juga sehingga saya dapat mempengaruhi orang sekitar, seperti orang tua, saudara untuk juga meningkatkan kesadaran politik.

Jadi, begitu. Intinya, menurut saya mari belajar lebih kritis, mencari informasi dan memahami politik, pemilu, termasuk kandidat-kandidat politik sedalam-dalamnya, sebaik-baiknya. Kemudian juga menyebarkan informasi yang kita dapat kepada orang lain, sehingga perilaku pemilih di negara kita bisa berubah, berubah lebih pintar dan dewasa dalam menyikapi politik.

Dengan kondisi konsumen atau pemilih yang makin pintar, kemudian akan menjadi tantangan dan menuntut parpol dan kandidat politik untuk tidak lagi asal pasang caleg, capres, dan calon-calon politik lainnya di pemilu, atau‘nyampah baliho’ di jalan-jalan *hehe*, untuk bisa lebih benar-benar berkualitas dalam politik.

Sehingga, dengan kondisi politik yang lebih baik, harapannya semoga kandidat politik di masa depan makin keren, inspiratif, dan berkualitas yang pada akhirnya dapat membuat negara ini punya pemimpin negara yang semakin bagus dan dapat membawa Indonesia lebih berkembang maju *bahasa iklan politik banget ini :p* . Amin!

Sebagai tindakan nyata, boleh lah dibuka link berikut yang saya dapat dari teman, isinya daftar caleg seluruh daerah di Indonesia beserta CV singkat mereka, mayan lah buat lihat-lihat info caleg *kalau gak tau dapil berapa, bs search di mbah gugel atau tanya ayah deh atau ibu, pasti tahu :D* —-> http://dct.kpu.gto.id/

It’s another exam in life. harder one. unexpected one. unpredictable one. a chance to know more the true me. shape habit. shaping personality. shape mindset. shows no one can help except God. miracle really happens. Family and friends’ support is indeed powerful. urge you to see around, talk, comfort, share to others. teach to think simple. teach to not always stick on plan. teach to open mind. teach to be strong. urge you to beat your own limit. teach to believe in faith. teach to dance with it. it’s another exam in life. it leads you to the better you, surely, nothing happens without reasons. God planed it. Bismillah.